
Cuplikan
buku :
http://www.serambi.co.id/modules.php?name=Katalog&op=tampilbuku&bid=211
- Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku
- (Az Zariyat 56)
- Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian
menjemputmu (al Hijr 99)
-
- Ibadah adalah bentuk lahir pengabdian dan
penghambaan adalah ruhnya.
- Apabila kau telah memahami hal ini, ketahuilah
bahwa ruh dan hakikat penghambaan adalah tidak ikut mengatur dan
tidak menentang takdir Tuhan.
- Jadi jelas, penghambaan adalah tidak ikut
mengatur dan memilih bersama rububiyahNya. Penghambaan sebagai
kedudukan yang paling mulia hanya bisa dicapai dengan sikap
tidak ikut mengatur.
- Jadi seorang hamba semestinya berserah diri
sepenuhnya kepada Allah dan terus berusaha mencapai tingkatan
yang paling sempurna dan paling mulia.
-
- Orang yang ikut mengatur bersama Allah adalah
seperti anak yang pergi bersama ayahnya. Keduanya berjalan di
malam hari.
- Karena menyayangi anaknya, sang ayah senantiasa
mengawasi dan memperhatikannya tanpa diketahui sang anak.
- Anak itu tidak bisa melihat ayahnya karena
malam yang teramat gelap. Ia meresahkan keadaan dirinya
dan tidak tahu apa yang harus diperbuat.
- Ketika cahaya bulan menyinari dan ia melihat
ayahnya dekat kepadanya, keresahannya sirna. Ia tahu ayahnya
begitu dekat dengannya. Kini ia merasa tidak perlu ikut mengurus
dirinya karena segala sesuatu telah diperhatikan oleh ayahnya.
-
- Seperti itulah orang mengatur untuk dirinya. Ia
melakukannya karena berada dalam kegelapan – terputus dari
Allah. Ia tidak merasakan kedekatan Allah. Andaikata bulan
tauhid atau mentari makrifat menyinarinya, tentu ia melihat
Tuhan begitu dekat, sehingga ia malu untuk mengatur dirinya dan
merasa cukup dengan pengaturan Allah.
-
- Perumpamaan orang yang mengatur bersama Allah
SWT dan orang yang tidak ikut mengatur adalah seperti dua budak
milik seorang majikan.
- Budak yang satu sibuk dengan perintah majikan
serta tidak memikirkan masalah pakaian dan makanan. Seluruh perhatiannya terpusat pada upaya untuk mengabdi kepada
majikannya sehingga lupa memerhatikan kepentingan dirinya.
- Sebaliknya, budak yang kedua, selalu
memerhatikan kebutuhan dirinya. Setiap kali sang majikan
mencarinya, ia sedang mencuci baju, memperbaiki keretanya dan
menghias pakaiannya.
- Tentu saja budak yang pertama lebih layak
mendapat perhatian sang majikan daripada budak kedua yang sibuk
dengan kepentingan dirinya dan melupakan kewajibannya. Seorang
budak dibeli untuk mengabdi kepada majikan, bukan untuk
memuaskan kepentingan dirinya sendiri.
-
- Orang yang ikut mengatur untuk dirinya adalah
seperti orang yang menjual sebuah rumah. Setelah akad jual beli,
si penjual mendatangi si pembeli dan berkata “jangan membangun
apa pun di dalamnya”. Tentu saja si pembeli menegurnya,
“Kamu telah menjualnya, dan kini kamu tak punya hak melakukan
apapun atasnya, Setelah akad, kamu tidak boleh ikut campur.”
-
- Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang
mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga
untuk mereka. (At Taubah 111)
-
- Orang beriman harus menyerahkan dirinya kepada
Allah beserta segala sesuatu yang terkait dengan dirinya. Sebab,
Allah lah yang menciptakannya dan Dia pula yang membelinya.
Salah satu keniscayaan dari sikap berserah diri adalah tidak
ikut mengatur atas apa yang telah kauserahkan.
-
- Sungguh setan itu tidak akan berpengaruh
terhadap orang yang beriman dan bertawakal
kepada Tuhan.
-
- Ketahuilah, musuh sejatimu, yaitu setan, akan
senantiasa mengganggumu ketika kau berada dalam keadaan yang
Allah tetapkan untukmu. Kemudian setan membisikkan buruknya
keadaan itu sehingga kau menghendaki keadaan lain diluar yang
telah ditetapkan Allah. Akibatnya, kau selalu gelisah dan hatimu
keruh.
-
- Setan akan mendatangi orang bekerja dan
mengatakan kepadanya,
- “Jika kau meninggalkan pekerjaanmu dan
khusyuk beribadah, tentu kau akan mendapatkan cahaya dan
kebeningan hati. Itulah yang dialami si fulan dan si fulan”
- Sementara Allah tidak meneetapkannya sebagai
abid yang melulu beribadah. Ia tak mampu melakukannya.
Kebaikannya hanya ada dalam kerja. Jika ia mengikuti bisikan
setan dan meninggalkan pekerjaannya, imanya akan goyah dan
keyakinannya akan runtuh.
-
- Pada orang yang melulu beribadah, setan
mebisikan hasutan yang berbeda,
- ”Sampai kapan kau enggan bekerja? Jika kau
tidak bekerja, kau akan mengharapkan milik orang lain dan hatimu
diliputi ketamakan. Tanpa kerja, kau tidak akan bisa membantu
dan meendahulukan kepentinganorang lain serta tidak akan mampu
menunaikan kewajibanmu. Keluarlah dari keadaanmu yang selalu
menunggu pemberian makhluk. Jika kau bekerja, orang lainlah yang
akan menunggu pemberianmu.”
- Begitulah setan membisikan
godaannya.
-
- Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa
yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan.
(QS Qasas :8)
-
- “Barang siapa bertakwa kepada Allah
niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki
dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa yang bertawakal
kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”
(QS. Ath Thalaaq [65]: 2-3).
-
- Tujuan setan adalah agar manusia tidak rida
atas keadaan yang Allah tetapkan untuknya. Ia berusaha
mengeluarkan mereka dari pilihan Allah menuju pilihan mereka
sendiri.
- Ketahuilah, ketika Allah memasukkanmu ke dalam
suatu keadaan, Dia pasti akan selalu membantumu.
- Namun, jika kau masuk ke dalamnya dengan
kemauan sendiri, Dia akan membiarkanmu.
- Allah berfirman, “Katakan, “Wahai Tuhan,
masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar dan keluarkanlah
aku dengan cara keluar yang benar, serta berikanlah kepadaku
dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong (QS Al-Isra : 80)
-
- Sesungguhnya engkau tidak mengetahui akhir dan akibat dari setiap urusan. Mungkin kau bisa mengatur dan merancang sebuah urusan yang baik menurutmu. Tetapi ternyata urusan itu berakibat buruk bagimu. Mungkin ada keuntungan di balik kesulitan dan sebaliknya, banyak kesulitan di balik keuntungan. Bisa jadi bahaya datang dari kemudahan dan kemudahan datang dari bahaya.
Mungkin saja anugerah tersimpan dalam ujian dan cobaan tersembunyi dibalik anugerah. Dan bisa jadi kau mendapatkan manfaat lewat tangan musuh dan binasa lewat orang yang kau cintai. Orang yang berakal tidak akan ikut mengatur bersama Allah karena ia tidak mengetahui mana yang berguna dan mana yang berbahaya bagi dirinya.
Syekh Abu Al Hasan rahimahullah berkata,
“Ya Allah, aku tidak berdaya menolak bahaya dari diri kami meskipun datang dari arah yang kami ketahui dan dengan cara yang kami ketahui. Lalu, bagaimana kami mampu menolak bahaya yang datang dari arah dan cara yang kami tidak ketahui?”
- Cukuplah untukmu firman Allah,
“Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal ia baik untuk kalian. Bisa jadi kalian mencintai sesuatu padahal ia buruk untuk kalian. Allah mengetahui, sementara kalian tidak mengetahui.”
- Seringkali kau menginginkan sesuatu, namun Tuhan memalingkannya darimu. Akibatnya, kau merasa sedih dan terus menginginkannya. Namun, ketika akhir dan akibat dari apa yang kau hasratkan itu tersingkap, barulah kau menyadari bahwa Allah SWT melihatmu dengan pandangan yang baik dari arah yang tidak kau ketahui, dan memilihkan untukmu dari arah yang tidak kau ketahui. Sungguh buruk seorang hamba yang tidak paham dan tidak pasrah kepadaNya.
Engkau adalah hamba yang selalu Dia pelihara. Seorang hamba tidak boleh ragu kepada majikannya. Apalagi sang majikan selalu memberi dan tidak pernah mengabaikan. Inti ibadah adalah percaya kepada Allah dan pasrah kepadaNya. Sikap itu berlawanan dengan hasrat ikut mengatur dan memilih bersama Allah. Seorang hamba harus mengabdi kepadaNya, dan Dia akan memberikan karunia untuknya.
-
- Pahamilah firmanNya, “Perintahkan keluargamu untuk shalat dan bersabarlah atasnya. Kami tidak meminta rezeki. Kamilah yang memberimu rezeki.” ”[QS Thaha : 132]
Artinya, mengabdilah kepada Kami, tentu Kami akan memberikan bagian padamu. Ayat itu mengandung dua hal, sesuatu yang Allah jamin untukmu sehingga kau tidak perlu mencarinya dan sesuatu yang diminta darimu sehingga tidak boleh kamu abaikan.
Kami tidak memintamu untuk memberi rezeki
kepada diri dan keluargamu.
- Bagaimana mungkin Kami memintamu melakukan hal
semacam itu ?!
- Bagaimana mungkin Kami membebani kewajiban
untuk memberi rezeki kepada dirimu, sementara kau tidak akan
mampu melakukannya ?
- Terpujikah Kami jika memerintahkanmu mengabdi,
sementara kami tidak memberikan bagian untukmu?
-
- Orang yang menyibukkan diri dengan sesuatu yang
telah dijamin oleh Allah sehingga lalai dari apa yang diminta,
berarti sangat bodoh dan lalai. Semestinya setiap hamba
menyibukkan diri dengan apa yang dituntut darinya tanpa
memikirkan apa yang telah dijamin untuknya.
- Allah SWT, memberi rezeki kepada kaum yang
membangkang, jadi bagaimana mungkin Dia tidak memberi kepada
kaum yang taat ?
- Apabila Dia telah mengalirkan rezekiNya kepada
orang kafir, bagaimana mungkin Dia menahannya untuk orang yang
beriman ?
- Kau telah mengetahui bahwa dunia telah dijamin
untukmu, sedang akhirat diminta darimu.
- Kau memiliki akal dan mata hati, jadi kenapa
kau arahkan perhatianmu kepada sesuatu yang telah dijamin
untukmu sehingga kau melalaikan kewajibanmu ?
-
- Perumpamaan orang yang sibuk bekerja dan orang
yang sibuk beribadah adalah seperti dua budak satu tuan.
- Sang tuan berkata kepada salah seorang dari
mereka, “Bekerjalah, dan makanlah dari hasil usahamu.”
- Kemudian kepada budak satunya ia berkata,
“Tetaplah bersamaku dan melayaniku. Akan kuberikan kepadamu
semua kebutuhanmu”.
-
- “Siapa
yang bersandar kepada Allah, berarti ia telah diberi petunjuk ke
jalan yang lurus” (QS Al Imran : 101
)
- “Siapa yang bertawakal kepada Allah, Dia
akan mencukupinya” (QS Al Thalaq : 3)
-
- Ketahuilah, sikap
tawakal kepada Allah dalam urusan rezeki tidak bertentangan
dengan usaha manusia
-
- Rasulullah SAW bersabda, Karena itu,
bertakwalah kepada Allah, dan mintalah (atau carilah) rezeki
dengan cara yang baik.”
- Rasulullah SAW,
membolehkan kita berusaha mencari rezeki. Seandainya usaha atau
bekerja bertentangan dengan tawakal, tentu Rasulullah akan
melarangnya.
- Rasulullah SAW tidak
mengatakan, "Jangan mencari rezeki," namun, "Carilah
rezeki dengan cara yang baik."
- Nabi Muhammad SAW membolehkan kita mencari
rezeki, karena itu merupakan bagian dari usaha. Nabi Muhammad
SAW bersabda “ Makanan yang paling halal dimakan seseorang
adalah yang merupakan hasil usahanya sendiri”
-
- Ketahuilah ada beberapa perwujudan dari sikap
mencari rezeki dengan baik. Berikut beberapa cara sebagaimana
yang Allah sampaikan melalui karunia Nya.
- Cara mencari rezeki yang baik adalah yang tidak
melalaikanmu dari Allah Swt.
- Cara mencari rezeki yang baik adalah mencarinya
kepada Allah Swt, tanpa menetapkan batasan, sebab, dan waktunya
sehingga Dia akan memberikan kepadanya apa yang Dia kehendaki,
dan diwaktu yang Dia kehendaki. Itulah etika meminta rezeki.
Orang yang mencari rezeki seraya menetapkan kadar, sebab dan
waktunya berarti telah mengatur Tuhannya, dan sikap itu
menunjukkan kelalaian hatinya.
- Cara meminta
rezeki yang baik adalah memintanya kepada Allah Swt, dan
jangan jadikan apa yang kau inginkan sebagai tujuan doamu.
Permintaanmu itu sesungguhnya hanyalah sarana untuk bermunajat
kepada Nya.
- Cara mencari rezeki yang baik adalah dilakukan
dengan penuh kesadaran bahwa jatahmu telah ditetapkan dan akan
mendatangimu, bukan permintaan dan usahamu yang mengantarkanmu
kepadanya
- Cara meminta rezeki yang baik adalah meminta
kepada Allah sesuatu yang bisa mencukupimu bukan yang
melenakanmu. Jangan menghendaki sesuatu secara berlebihan. Nabi
Muhammad SAW , mengajarkan doa yang baik “ Ya Allah,
jadikanlah makanan keluarga Muhammad sekedar bisa mencukupi’.
- Cara meminta rezeki yang baik bisa dengan cara
meminta bagian dunianya. Allah berfirman “dan, diantara
mereka ada yang berdoa, Ya Tuhan kami , berilah kami kebaikan
didunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari azab
neraka” (QS Al Baqarah : 201)
- Cara meminta rezeki yang baik adalah meminta
tanpa meragukan jatah yang diberikan Allah, serta tetap menjaga
diri dari segala sesuatu yang dilarang.
- Cara meminta rezeki yang baik adalah meminta
tanpa menuntut untuk segera dikabulkan.
- Cara meminta rezeki yang baik adalah meminta
dan bersyukur kepada Allah jika diberi dan menyadari pilihan
terbaik Nya jika tidak diberi.
- Cara meminta rezeki dengan baik adalah meminta
kepada - Nya agar kau berpegang pada pembagian-Nya yang telah
ditetapkan, tidak kepada permintaanmu.
-
- Ya Allah, Engkau telah menetapkan untuk kami
bagian yang Engkau sampaikan kepada kami. Maka sampaikanlah kami
kepadanya dengan mudah dan tanpa kepenatan, terjaga dari
keterhijaban, diliputi cahaya hubungan dengan-Mu, yang kami
saksikan dari-Mu sehingga kami termasuk golongan yang bersyukur
dan menyandarkan bagian kami itu kepada-Mu, bukan kepada salah
satu mahluk-Mu.
Wassalam

Zon
|
|